Selasa, 16 April 2013

Bagaimana cara atau strategi menyiasati soal toefl (listening)

In the four-part test that exists in every organization of the TOEFL test, ie Listening, structure, reading and writing, is the first part of the Listening test. This section is intended to test the participants' ability to understand spoken English used in North America. In addition, this test is also intended to test the ability of the participants to understand the conversation, both Short and Longer Conversations Dialogues, and understand the core problem, which strengthens the argument put forward information and the details about the subject of discussion or lecture, either in the form of Academic Discussions or Academis Lectures.
For those who've followed the TOEFL test, either once or several times, it is seen that the test has been designed as a form of English test scores gained international recognition, to date, there are three forms of organization of the TOEFL test, namely :
1.      Paper-Based Test (PBT)
2.      Computer-Based Test (CBT)
3.      Institutional Testing Program (ITP)

Stance to a subjects and verbs
In general, a sentence in English should have the One Subject and One Verb. The question that often arises in TOEFL is the removal of a subject or a verb or both. Sometimes the sentence in question like to add a subject or a verb that does not need to be.
·         In the English sentence has at least one SUBJECT and one VERB
·         Finding Subjects and Verbs in a sentence

To facilitate subsequent lessons it needs to be distinctive mark each subject, verb, etc.
-          SUBJECTS are underlined One
-          verbs are underlined two
-          adverbs were dashed line
-          adjectives were wavy lines

The example in the matter of Toefl :
                        was ringing continuously for hours
(A)   Loudly
(B)   In the morning
(C)   The Phone
(D)   The bells

Steps to answer :
1.       Finding subjects and verbs
Identified there is a Verb and singular that was. So the subject is required to complete these questions.
2.       Analyzing Answers
(A)   is not a subject
(B)   a singular subject
(C)   a plural subject (much / more than one)
From the analysis of the response, it can be concluded that the Phone is the right answer because the verb is singular in the matter, the subject should be singular as well.

The second moment OBJECT OF PREPOSITION
-          Object of the preposition is a word that follows a noun or adjective
-          IF ANY WORDS / SENTENCES IS AN OBJECT OF PREPOSITION, MEANING OF WORDS / SENTENCES THAT ARE NOT SUBJECT

(PREPOSITION)
About
before
for
an
under
Across
behind
from
outside
unlike
After
beside
in
over
until
Against
between
inside
past
up
Along
beyond
into
since
upon
Among
by
like
through
versus
Around
despite
near
throughout
with
As
down
of
to
within
At
during
off
toward
Without

Practice looking for the next word. Look for the next 10 words of the sentence below :
A local construction site has been in uproar since yesterday, when the fossilized bones of an extinct dinosour were discovered under several feet of soil by incredulous construction workers. The bones are being removed from the ditch, and work on the construction site has temporarily been halted for further scientific study of the location.

To Mike _______ was a big surprise
(A) Really
(B)  the party
(C)  funny
(D) when

1. Mark Twain ………….. they years after the Civil War the “Gilded Age.”

(A) Called

(B) Calling

(C) He called

(D) His calls

6. The large carotid artery …….. to the main parts of the brain.

(A) carrying blood
(B) blood is carried
(C) carries blood
(D) blood carries
2. Early ………… toes instead of hooves on their feet.

(A) Horses

(B) Had horses

(C) Horses had

(D) Horses having

7. ……. Radio as the first practical system of wireless telegraphy.

(A) Marconi’s development
(B) the development by Marconi
(C) Developing Marconi
(D) Marconi developed
3. …….. grow close to the ground in the short Arctic summer.

(A) Above tundra plants

(B) Tundra plants

(C) Tundra plants are found

(D) For tundra plants

8. In 1975, the first successful space probe to …….. beginning to send information back to Earth.

(A) Venus
(B) Venus the
(C) Venus was
(D) Venus it was
4. In 1867, ……. Alaska from the Russians for $7.2 million.

(A) Purchased the United States

(B) To purchase the United States

(C) The United States’ purchase of

(D) The United States purchased

9. The two biggest resort ……. Arkansas are Hot Springs and Eureka Springs.

(A) in
(B) towns in
(C) towns are
(D) towns are in
5. Between 1725 and 1750, New England witnessed an increase in the specialization of ……..

(A) Occupations

(B) Occupies

(C) They occupied

(D) It occupied them


10. NASA’s Lyndon B. Johnson Space Center ………… control center for the Mercury, Gemini, and Apollo space flights.

(A) it was at the
(B) it was the
(C) was the
(D) the
NARASUMBER :



Rabu, 02 Januari 2013

TUGAS 4 CONTOH KUTIPAN


Suku Maya Guatemala Tolak Ramalan Kiamat

Suku Maya Guatemala Tolak Ramalan Kiamat        
                       
GUATEMALA CITY, KOMPAS.com — Suku Maya Guatemala menuduh pemerintah negeri itu memanfaatkan mitos hari kiamat versi kalender Maya untuk keuntungan finansial.

"Kami menentang penipuan, kebohongan dan manipulasi kebenaran, dan menjadikan kami alat untuk mendapatkan keuntungan. Mereka tak mengatakan yang sebenarnya soal siklus waktu," kata Pemimpin Aliansi Suku Maya Oxlaljuj Ajpop, Felipe Gomez.

Gomez meminta lembaga-lembaga turisme memikirkan ulang soal ramalan hari kiamat, yang dia gambarkan sebagai sebuah pertunjukan yang menghina budaya suku Maya.

"Siklus waktu suku Maya berarti akan terjadi perubahan besar terhadap diri seseorang, keluarga dan komunitas, akan terwujud keseimbangan dan harmoni antara manusia dan alam," papar Gomez.

Kini, Oxlajuj Ajpop, tengah menggelar ajang yang bagi mereka dianggap sakral di lima kota untuk menandai "akhir zaman" ini. Gomez meminta Kementerian Kebudayaan Guatemala cukup bijaksana untuk mendukung selebrasi yang benar ini.

Kalender kuno suku Maya terdiri atas 18 bulan dan masing-masing bulan terdiri atas 20 hari. Dalam kalender kuno itu, terdapat satu bulan suci "Wayeb" yang hanya terdiri dari lima hari.

Selain itu, dikenal juga "Baktun" unit terbesar dalam satu siklus waktu, yaitu sekitar 400 tahun. Siklus waktu terbesar terdiri atas 13 Baktun, atau sekitar 5.200 tahun.

Belakangan ini, banyak film dan dokumenter yang mengangkat isu ramalan kalender Maya kuno terkait hari Kiamat yang "diyakini" terjadi pada 21 Desember 2012 mendatang.

Isu menakutkan ini justru menjadi ajang sejumlah negara dan perusahaan untuk menangguk keuntungan dari sektor wisata.

Kementerian Kebudayaan Guatemala bahkan menggelar acara besar-besaran di ibu kota, Guatemala City, yang diharapkan dihadiri 90.000 orang untuk "menyambut" hari kiamat. Sejumlah biro wisata bahkan menyediakan paket khusus bertemakan hari kiamat.

Lebih dari separuh dari 15 juta penduduk Guatemala adalah keturunan suku Maya

NARASUMBER :

Kamis, 27 Desember 2012

Tulisan Keragaman Budaya Indonesia

Pendahuluan

Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman budaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan.
 
Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten pada abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang gujarat dan pesisir jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal ditengah-tengah singgungan antar peradaban itu.

Bukti Sejarah

Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel. Misalnya kebudayaan kraton atau kerajaan yang berdiri sejalan secara paralel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan paralel dengan kebudayaan rural atau pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang hidup jauh terpencil. Hubungan-hubungan antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai ”Bhinneka Tunggal Ika” , dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan.

Didasari pula bahwa dengan jumlah kelompok sukubangsa kurang lebih 700’an sukubangsa di seluruh nusantara, dengan berbagai tipe kelompok masyarakat yang beragam, serta keragaman agamanya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang sesungguhnya rapuh. Rapuh dalam artian dengan keragaman perbedaan yang dimilikinya maka potensi konflik yang dipunyainya juga akan semakin tajam. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat akan menjadi pendorong untuk memperkuat isu konflik yang muncul di tengah-tengah masyarakat dimana sebenarnya konflik itu muncul dari isu-isu lain yang tidak berkenaan dengan keragaman kebudayaan. Seperti kasus-kasus konflik yang muncul di Indonesia dimana dinyatakan sebagai kasus konflik agama dan sukubangsa. Padahal kenyataannya konflik-konflik tersebut didominsi oleh isu-isu lain yang lebih bersifat politik dan ekonomi. Memang tidak ada penyebab yang tunggal dalam kasus konflik yang ada di Indonesia. Namun beberapa kasus konflik yang ada di Indonesia mulai memunculkan pertanyaan tentang keanekaragaman yang kita miliki dan bagaimana seharusnya mengelolanya dengan benar.

Peran pemerintah: penjaga keanekaragaman

Sesungguhnya peran pemerintah dalam konteks menjaga keanekaragaman kebudayaan adalah sangat penting. Dalam konteks ini pemerintah berfungsi sebagai pengayom dan pelindung bagi warganya, sekaligus sebagai penjaga tata hubungan interaksi antar kelompok-kelompok kebudayaan yang ada di Indonesia. Namun sayangnya pemerintah yang kita anggap sebagai pengayom dan pelindung, dilain sisi ternyata tidak mampu untuk memberikan ruang yang cukup bagi semua kelompok-kelompok yang hidup di Indonesia. Misalnya bagaimana pemerintah dulunya tidak memberikan ruang bagi kelompok-kelompok sukubangsa asli minoritas untuk berkembang sesuai dengan kebudayaannya. Kebudayaan-kebudayaan yang berkembang sesuai dengan sukubangsa ternyata tidak dianggap serius oleh pemerintah. Kebudayaan-kebudayaan kelompok sukubangsa minoritas tersebut telah tergantikan oleh kebudayaan daerah dominant setempat, sehingga membuat kebudayaan kelompok sukubangsa asli minoritas menjadi tersingkir. Contoh lain yang cukup menonjol adalah bagaimana misalnya karya-karya seni hasil kebudayaan dulunya dipandang dalam prespektif kepentingan pemerintah. Pemerintah menentukan baik buruknya suatu produk kebudayaan berdasarkan kepentingannya. Implikasi yang kuat dari politik kebudayaan yang dilakukan pada masa lalu (masa Orde Baru) adalah penyeragaman kebudayaan untuk menjadi “Indonesia”. Dalam artian bukan menghargai perbedaan yang tumbuh dan berkembang secara natural, namun dimatikan sedemikian rupa untuk menjadi sama dengan identitas kebudayaan yang disebut sebagai ”kebudayaan nasional Indonesia”. Dalam konteks ini proses penyeragaman kebudayaan kemudian menyebabkan kebudayaan yang berkembang di masyarakat, termasuk didalamnya kebudayaan kelompok sukubangsa asli dan kelompok marginal, menjadi terbelakang dan tersudut. Seperti misalnya dengan penyeragaman bentuk birokrasi yang ada ditingkat desa untuk semua daerah di Indonesia sesuai dengan bentuk desa yang ada di Jawa sehingga menyebabkan hilangnya otoritas adat yang ada dalam kebudayaan daerah.

Tidak dipungkiri proses peminggiran kebudayaan kelompok yang terjadi diatas tidak lepas dengan konsep yang disebut sebagai kebudayaan nasional, dimana ini juga berkaitan dengan arah politik kebudayaan nasional ketika itu. Keberadaan kebudayaan nasional sesungguhnya adalah suatu konsep yang sifatnya umum dan biasa ada dalam konteks sejarah negara modern dimana ia digunakan oleh negara untuk memperkuat rasa kebersamaan masyarakatnya yang beragam dan berasal dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Akan tetapi dalam perjalanannya, pemerintah kemudian memperkuat batas-batas kebudayaan nasionalnya dengan menggunakan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang dimilikinya. Keadaan ini terjadi berkaitan dengan gagasan yang melihat bahwa usaha-usaha untuk membentuk suatu kebudayaan nasional adalah juga suatu upaya untuk mencari letigimasi ideologi demi memantapkan peran pemerintah dihadapan warganya. Tidak mengherankan kemudian, jika yang nampak dipermukaan adalah gejala bagaimana pemerintah menggunakan segala daya upaya kekuatan politik dan pendekatan kekuasaannya untuk ”mematikan” kebudayaan-kebudayaan local yang ada didaerah atau kelompok-kelompok pinggiran, dimana kebudayaan-kebudayaan tersebut dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan nasional.

Setelah reformasi 1998, muncul kesadaran baru tentang bagaimana menyikapi perbedaan dan keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Yaitu kesadaran untuk membangun masyarakat Indonesia yang sifatnya multibudaya, dimana acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multibudaya adalah multibudayaisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan,1999). Dalam model multikultural ini, sebuah masyarakat (termasuk juga masyarakat bangsa seperti Indonesia) dilihat sebagai mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mosaik. Di dalam mosaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan yang seperti sebuah mosaik tersebut. Model multibudayaisme ini sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi: “kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah”.

Sebagai suatu ideologi, multikultural harus didukung dengan sistem infrastuktur demokrasi yang kuat serta didukung oleh kemampuan aparatus pemerintah yang mumpuni karena kunci multibudayaisme adalah kesamaan di depan hukum. Negara dalam hal ini berfungsi sebagai fasilitator sekaligus penjaga pola interaksi antar kebudayaan kelompok untuk tetap seimbang antara kepentingan pusat dan daerah, kuncinya adalah pengelolaan pemerintah pada keseimbangan antara dua titik ekstrim lokalitas dan sentralitas. Seperti misalnya kasus Papua dimana oleh pemerintah dibiarkan menjadi berkembang dengan kebudayaan Papuanya, namun secara ekonomi dilakukan pembagian kue ekonomi yang adil. Dalam konteks waktu, produk atau hasil kebudayaan dapat dilihat dalam 2 prespekif yaitu kebudayaan yang berlaku pada saat ini dan tinggalan atau produk kebudayaan pada masa lampau.

Menjaga keanekaragaman budaya

Dalam konteks masa kini, kekayaan kebudayaan akan banyak berkaitan dengan produk-produk kebudayaan yang berkaitan 3 wujud kebudayaan yaitu pengetahuan budaya, perilaku budaya atau praktek-praktek budaya yang masih berlaku, dan produk fisik kebudayaan yang berwujud artefak atau banguna. Beberapa hal yang berkaitan dengan 3 wujud kebudayaan tersebut yang dapat dilihat adalah antara lain adalah produk kesenian dan sastra, tradisi, gaya hidup, sistem nilai, dan sistem kepercayaan. Keragaman budaya dalam konteks studi ini lebih banyak diartikan sebagai produk atau hasil kebudayaan yang ada pada kini. Dalam konteks masyarakat yang multikultur, keberadaan keragaman kebudayaan adalah suatu yang harus dijaga dan dihormati keberadaannya. Keragaman budaya adalah memotong perbedaan budaya dari kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di Indonesia. Jika kita merujuk kepada konvensi UNESCO 2005 (Convention on The Protection and Promotion of The Diversity of Cultural Expressions) tentang keragaman budaya atau “cultural diversity”, cultural diversity diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam kebudayaan kelompok atau masyarakat untuk mengungkapkan ekspresinya. Hal ini tidak hanya berkaitan dalam keragaman budaya yang menjadi kebudayaan latar belakangnya, namun juga variasi cara dalam penciptaan artistik, produksi, disseminasi, distribusi dan penghayatannya, apapun makna dan teknologi yang digunakannya. Atau diistilahkan oleh Unesco dalam dokumen konvensi UNESCO 2005 sebagai “Ekpresi budaya” (cultural expression). Isi dari keragaman budaya tersebut akan mengacu kepada makna simbolik, dimensi artistik, dan nilai-nilai budaya yang melatarbelakanginya.

Dalam konteks ini pengetahuan budaya akan berisi tentang simbol-simbol pengetahuan yang digunakan oleh masyarakat pemiliknya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungannya. Pengetahuan budaya biasanya akan berwujud nilai-nilai budaya suku bangsa dan nilai budaya bangsa Indonesia, dimana didalamnya berisi kearifan-kearifan lokal kebudayaan lokal dan suku bangsa setempat. Kearifan lokal tersebut berupa nilai-nilai budaya lokal yang tercerminkan dalam tradisi upacara-upacara tradisional dan karya seni kelompok suku bangsa dan masyarakat adat yang ada di nusantara. Sedangkan tingkah laku budaya berkaitan dengan tingkah laku atau tindakan-tindakan yang bersumber dari nilai-nilai budaya yang ada. Bentuk tingkah laku budaya tersebut bisa dirupakan dalam bentuk tingkah laku sehari-hari, pola interaksi, kegiatan subsisten masyarakat, dan sebagainya. Atau bisa kita sebut sebagai aktivitas budaya. Dalam artefak budaya, kearifan lokal bangsa Indonesia diwujudkan dalam karya-karya seni rupa atau benda budaya (cagar budaya). Jika kita melihat penjelasan diatas maka sebenarnya kekayaan Indonesia mempunyai bentuk yang beragam. Tidak hanya beragam dari bentuknya namun juga menyangkut asalnya. Keragaman budaya adalah sesungguhnya kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Narasumber :